bunga

Hikmah da'wah sembunyi-sembunyi..........

Hikmah Da’wah Sirriyyah
(bagian pertama)

HIKMAH PERTAMA: pertanyaannya, mengapa dakwah didahului dengan rahasia?

Jawabannya adalah;

1.Agar warga Mekah tidak dikagetkan dengan peristiwa yang menakutkan mereka, yang menyebabkan mereka kalap dan mematikan embrio dakwah dari masa buaian.

2.Agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullooh صلي الله عليه وسلم mengumumkannya dan muncul musuh-musuh Islam yang berupaya menghancurkannya.1

Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata,”Tidak ada dalil akurat yang bisa dijadikan pegangan oleh mereka yang melakukan dakwah rahasia di negara-negara kaum muslimin dewasa ini. Dakwah Rasulullooh صلي الله عليه وسلم selama tiga tahun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan dalam masalah itu, karena beliau صلي الله عليه وسلم dan shahabat-shahabatnya pada waktu itu tidak mampu untuk memperdengarkan kalimat Laailaahaillallooh Muhammadan Rasulullooh. Mereka tidak diizinkan untuk melakukan sholat, tetapi setelah barisan dakwah mereka kuat, maka dakwah akhirnya diumumkan, yaitu konsekwensinya mereka berhadapan dengan siksaan dan intimidasi sebagaimana yang dikenal di kalangan umat Islam.2 Oleh karena itu, asal dari dakwah ini adalah mengumumkan. Adapun cara rahasia hanya dipakai apabila berhadapan dengan darurat yang kondisinya bisa dipahami oleh orang cerdas, karena rahasia adalah bentuk pengecualian dan bukan dasar utama.”

Berdasarkan penjelasan di atas, kita mengambil beberapa pelajaran di antaranya:

1.Allooh سبحانه وتعالي tidak membebani seseorang, kecuali sesuai kemampuannya, maka apabila ada perintah untuk melakukan amaliah dakwah, lakukanlah sesuai dengan kemampuan dan sejalan dengan manhaj yang benar.

2.Tidak tergesa-gesa untuk memetik hasil, karena Rosulullooh صلي الله عليه وسلم sebagai orang yang diperintahkan untuk memikul kewajiban dakwah ini, karena sangat mencintai dakwah, antusias, dan responsive, sangat berambisi agar manusia menerima dakwahnya, seharusnya beliau صلي الله عليه وسلم mengajak siapa saja yang beliau صلي الله عليه وسلم temui di jalan atau yang ditemuinya di Ka’bah ataupun dalam perkumpulan-perkumpulan. Namun, ternyata beliau صلي الله عليه وسلم tidak menceritakan dakwah itu, kecuali kepada orang-orang tertentu. Beliau صلي الله عليه وسلم menahan diri, menanti masa berdakwah secara terbuka tiba, yang akan mampu memberikan hasil yang lebih dan cepat, menunggu waktu yang tepat.

Seorang da’I mesti mengetahui bahwa setiap manusia memiliki sisi fitrah dan kebaikan, itu dipahami berdasarkan hadits Rosulullooh صلي الله عليه وسلم,”Setiap ana manusi yang dilahirkan, lahir dalam keadaan fitrah.”3

Namun, fitrah itu tertutupi oleh dosa dan noda dan untuk bisa sampai kepada fitrah itu, perlu menanti dengan kesabaran. Beberapa masyayikh memberikan perumpamaan dengan berkata,”Sesungguhnya bagi siapa saja yang menyalakan api kemudian membiarkan kayu bakarnya hangus dan menyisakan abu dan arang, maka setelahnya seseorang bisa saja mengeluarkan dari gundukan abu yang sudah dingin itu sebuah bara api kecil yang menjadi cikal api yang menyala, yaitu dengan cara meniup debu yang mengelilinginya kemudian meniup kembali hingga muncul bara api yang bisa menyala tatkala diletakkan di atasnya daun kering atau kertas.”

Akan tetapi, kenyataannya banyak manusia yang terlalau tergesa-gesa dalam mengeluarkan bara kecil itu dari tumpukan abu, dia langsung dengan cepat meniup tumpukan abu tersebut, yang menyebabkan abu itu bertebaran di mukanya, dan cikal bara itu berserakan tanpa bisa dimanfaatkan lagi. Begitulah perumpamaan berdakwah di jalan Allooh سبحانه وتعالي . Siapa saja yang tergesa-gesa dalam memetik hasil, maka mudharatnya akan lebih banyak daripada manfaatnya. Namun, bagi yang berhati-hati dan bersabar dalam bekerja untuk menghilangkan karat yang melekat di hati yang ibaratnya bagaikan debu hingga dia berhasil menembus hati, hingga meraih cahaya kebenaran dan menerangi sekelilingnya, objek dakwahnya menerima ajakannya, maka dia telah berhasil karena menghindari tergesa-gesa dalam memetik hasil.4

Kisah Syaikh Muhammad At Tamimi رحمه الله yang tidak tergesa-gesa dalam mengambil tindakan tatkala melihat manusia bertawaf di sekitar kuburan Zaid bin Al Khattab dekat kota Riyadh, dia hanya mencukupkan dengan berkata,”Alloohسبحانه وتعالي lebih mulia daripada Zaid رضي الله عنه ”, itu terjadi pada awal dakwahnya dan itu muncul karena kearifan beliau dalam berdakwah. Semoga Allooh merahmatinya dengan rahmat yang luas.5

Catatan Kaki:
1.Lihat vAs Sayyid Al Wakil, Ta’Ammul Fis-Sirah An NAbawiyah, hal 42-43
2.Abu Bakar Al Jazairi, Hadza Al Habib Ya Muh54, nomor 1385
4.Perumpamaan ini saya telah mendengarnya dari Syaikh Ali Thanthawi Rohimahullooh
5.Lihat As Syaikh Abdul Rahman bin Hasan, Khams Rasa’il At Tauhid wa Al Iman, Risalah pertama, Ar Risalah Al Ula Ashl Dinil Islam wa Qo’idatuhu, hal. 339, dicetak satu dengan buku tauhid. Dia berkata,”Seperti yang telah terjadi pada kehidupan kita Muhammad At Tamimi رحمه الله pada awal meniti jalan dakwah Dia رحمه اللهberkata tatkala mendengar mereka memanggil Zaib, hal 99
3.Shahih Al Bukhari dengan Fathu Al Bari, 3/2id bin Al Khatththab رضي الله عنه ‘Allooh سبحانه وتعالي lebih baik daripada Zaid رضي الله عنه ’, membiasakan mereka dalam menafikan kemusyrikan secara perlahan hingga mudharat bisa terhindari demi maslahat, Walloohua’lam.

*Diambil dari Buku FIKIH SIRAH, Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az Zaid, Darus Sunnah

dari : sahabatku Ahmad Zen