bunga

Ilmu, Ulama dan Peradaban Islam

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa mahasiswa di salah satu perguruan Tinggi Islam di Jawa Timur. Obrolan kami seputar masalah Peradaban Islam dan perkembangannya. Memprihatinkan, beberapa dari mereka bertanya, "mengapa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin ia berbuat salah?" "Kalau begitu, apakah tidak sebaiknya kita menjadi orang bodoh saja?"

Mendapat pertanyaan ini, saya tertegun. Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin pertanyaan ini lahir dari para mahasiswa yang sedang berada di jenjang pendidikan tinggi. Tidakkah mereka menyadari bahwa mereka sendiri sedang berproses menjadi orang "pintar"? Dan bagaimana mungkin pertanyaan itu muncul di saat membicarakan peradaban. Satu wacana yang sarat dengan perjuangan dan pergulatan intelektual. Apalagi, di saat itu, saya berada di sebuah perguruan tinggi Islam. Yang seharusnya menjadi tempat pelopor bagi "kegiatan intelektual" umat Islam.

Lalu, bagaimana peradaban Islam akan maju jika umatnya berpandangan dan bersikap demikian? Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan ini, saya menyadari, yang ketika itu mereka fikirkan dan yakini, yang kemudian mereka ekspresikan ke saya dalam bentuk pertanyaan, adalah satu 'akumulasi' kebingungan, kegundahan dan pencarian jawaban.

Tak dapat disangkal, inilah hasil dari "menu" harian kita. Dimana banyak orang dengan pendidikan tinggi "mempertontonkan" kecerdikannya dalam menyakiti rakya, terutama yang berkenaan dengan masalah korupsi. Realita ini ternyata telah membentuk konsepsi masyarakat tentang "siapa itu orang berilmu", atau yang dalam terminolgi Islam dikenal dengan ulama. Tentu, dasar pembentuk konsepsi yang tidak sehat ini akan melahirkan sesuatu yang tidak sehat pula. Sehingga, sebagian masyarakat merasa lebih baik tidak menuntut ilmu dari pada malah menggiring mereka melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Pandangan yang demikian tentu sangat berbahaya. Sebab, bagaimana kita akan membangun peradabana Islam jika kita tidak menuntut ilmu dan berilmu.

Maka dari itu, kita perlu melihat kembali secara jernih dan mendasar, siapa sebenarnya 'orang berilmu (ulama)' itu. Apakah setiap orang yang hanya karena telah menempuh satu pendidikan tertentu langsung disebut ulama? Jika tidak, lantas, siapa mereka (ulama)? Dan bagaimana seharusnya mereka bersikap dan menggunakan ilmunya? Inilah yang menjadi bahasan tulisan ini.

Ulama: Ilmu dan Amal

Untuk mengenal diri kita dari kaca mata keilmuan dan pengamalannya, menarik melihat apa yang dikatakan oleh Al-Khalil bin Ahmad: "Arrijaalu arba'ah: Rajulun yadrii wa yadrii an-nahu yadrii fadzalika 'alimun fas-aluhu, wa ra julun yadrii wa laa yadrii an-nahu yadrii fadzalika naasin fa dzakkiruhu, wa rajulun laa yadrii wa yadrii an-nahuu laa-yaddri fa dzalika mustarsyidun fa-arsyiduhu, wa rajulun la yadrii wa laa yadriii an-nahuu laa yadrii fa dzalika jaahilun farfudhuhu" (orang itu terbagi menjadi empat karakter, pertama, orang yang tahu, dan ia tahu bahwa dirinya tahu, dialah orang alim, maka bertanyalah (belajarlah) kepadanya. Kedua, orang yang tahu, tapi ia tidak tahu bahwa dirinya tahu. Inilah orang yang lupa. Maka ingatkanlah ia. Ketiga, orang yang tidak tahu, dan ia tahu bahwa dirinya tidak tahu. Inilah orang yang minta bimbingan, maka bimbinglah ia. Keempat, orang yang tidak tahu, tapi ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, inilah orang bodoh. Maka jangan bergaul dengannya) (Baca: Imam al-Mawardi dalam Adab ad-Dunya wa ad-Diin: 86).

Demikianlah, orang alim itu adalah orang yang tahu dan ia tahu bahwa dirinya tahu. Orang ini paham apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Tidak sekedar itu, ia juga tahu hak-hak ilmu, kemudian menunaikannya. Artinya, walaupun seseorang itu sudah menempuh jenjang pendidikan tertentu, namun ia belum dikatakan sebagai seorang 'alim kecuali setelah mengamalkan ilmunya. Hal ini telah diungkapkan juga oleh Ali ibn Abi Thalib, "innamal alim man amila bima alima." Ini karena tujuan utama ilmu adalah untuk diamalkan. Dan amal itu sendiri harus dilandasi oleh ilmu. Atau dengan kata lain, orang alim itu hanya mengamlkan apa yang diilmuinya.

Berikutnya, orang alim itu tidak akan merasa puas dengan ilmu yang diketahuinya. Justru ia akan merasa perlu untuk belajar dan terus belajar. Dalam hal ini, Abdullah bin Mubarak berkata, "seseorang tetap dikatakan alim selagi ia terus menuntut ilmu. Jika ia menyangka ilmunya telah cukup, maka sesungguhnya dia masih bodoh." Dan dalam sejarah, kita tahu, Imam Ahmad yang telah hafal satu jutas Hadits (menurut ar-Razi), tidak pernah lepas dari pena dan tinta. Saat beliau ditanya oleh seseorang, "sampai kapankah Anda membawa tinta?" Beliau menjawab, "membawa tinta sampai ke kubur". Di sini, sungguh beliau bertekad mencari ilmu hingga ajal menjemput. Sebuah proses pendidikan yang tuula az-zaman.

Atas dasar ini, tidak heran jika kelompok umat yang memiliki karakter kedua di atas tidak dimasukkan dalam golongan ulama. Sebab, mereka ini memang sudah mengetahui ilmu, tapi perbuatannya bertentangan dengan apa yang diketahuinya. Mungkin, sebagian besar dari kita masuk kategori ini. Kita sudah mengetahui suatu perintah, tapi belum juga melaksanakan. Sudah tahu yang haram, namun masih lebih sering terjerumus ke dalamnya. Padahal, disaat yang bersamaan kita juga tahu yang halal. Maka, dalam keadaan seperti ini kita perlu diingatkan. Misalnya dengan secara rutin mendatangi majlis-majlis. Insya Allah dengan cara ini, kelalaian kita akan cepat teratasi, sehingga kita bisa meningkat ke peringkat pertama tadi.

Jika tidak melakukan ini, berarti kita memelihara "kelalaian" itu. Padahal, tidak ada yang lebih berbahaya dari orang yang dianggap mengetahui ilmu, tapi menyengaja berbuat dosa. Na'udzubillahi min dzalik. Umar bin Khattab berkata:
قال عمر رضي الله عنه: إن أخوف ما أخاف على هذه الأمة المنافق العليم. قالوا وكيف يكون منافقا عليما؟ قال عليم اللسان جاهل القلب والعمل
(Sesungguhnya di antara yang saya khawatirkan terjadi pada umat ini adalah adanya seorang munafik yang alim." Orang-rang bertanya, "Bagaimana ada munafik tapi alim?" Beliau menjawab, "Yakni orang yang hanya pintar di lidah, namun bodoh dalam hati dan amalnya). Imam al-Ghazali menyebut mereka ini sebagai 'ulama su', yang justru akan melemahkan pondasi bangunan Peradaban Islam (Baca: Ihya' Ulumiddin).

Demikianlah, tidak semua orang yang punya ilmu itu disebut sebagai 'alim (jamak: 'ulama), apalagi mereka yang memang tidak berilmu, seperti yang tergambar dalam kategori ketiga dan keempat di atas.

Pemetaan ini penting kita ketahui, agar kita tidak salah dalam melihat fenomena yang berkembang, dimana ada sebagian orang yang punya ilmu malah "memimpin" pelanggaran ajaran agama. Jika tidak, kita akan berfikir, lebih baik tidak menuntut ilmu dari pada ikut-ikutan terjerumus pada perbuatan salah itu. Padahal, sebagaimana yang dinyatakan oleh Sahl rahimahulla, "Tidaklah Allah Azza wa Jalla didurhakai dengan kedurhakaan yang lebih buruk dari kebodohan. Dan kebodohan yang paling parah adalah bodoh terhadap kebodohannya sendiri."

Di samping itu, yang perlu kita sadari adalah, adanya "tuntutan" agar mengamalkan ilmu yang kita peroleh itu 'tidak boleh' meniadakan kemauan atau rasa tanggung jawab untuk menuntut ilmu. Sebab, ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki merupakan satu kesalahan itu sendiri. Ini telah nyata tergambar dalam pernyataan Abu Hurairah ketika ditanya oleh seseorang:
وقال رجل لأبي هريرة رضي الله عنه: أريد أن أتعلم العلم وأخاف أن أضيعه، فقال: كفى بترك العلم إضاعة له.
[Sebenarnya saya ingin menuntut ilmu, tapi saya takut akan menyia-nyiakannya (yakni khawatir tidak bisa mengamalkannya)." Beliau menjawab, "cukuplah kamu dianggap menyia-nyiakan ilmu jika kamu tidak mau belajar].

Pondasi Peradaban

Apa yang terjadi di atas, selayaknya menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang telah mencapai tingkat tertentu dalam menuntut ilmu. Dimana gerak-gerik mereka sangat mempengaruhi pandangan masyarakat. Jika mereka berbuat positif, maka secara tidak langsung telah mengajak dan mendorong masyarakat untuk terus menuntut ilmu. Namun sebaliknya, jika dengan ilmunya itu kemudian seseorang malah berbuat yang tidak terpuji, tentu lambat laun ini akan memberi pengaruh negatif terhadap masyarakat luas.

Tentu, bagi kita semua, ketakutan masyarakat yang muncul akibat perilaku buruk orang-orang yang punya ilmu itu menjadi satu keprihatin. Bagaimana tidak, saat ini, kita sedang berjuang membangun kembali Peradaban Islam. Sejarah telah berbicara, kebangkitan peradaban Islam ditopang oleh ilmu pengetahuan. Sehingga, upaya membangun kembali bangunan ilmu pengetahuan yang sedang nyaris lumpuh adalah dengan menegakkan kembali bangunan ilmu pengetahuan. Sebab dalam Islam, ilmu merupakan prasyarat untuk menguasai dunia, akhirat dan dunia-akhirat sekaligus. Atau, dapat dikatakan, ilmu adalah akar peradaban dan peradaban adalah buah dari ilmu pengetahuan. Dengan demikian, kemunduran umat Islam saat ini lebih karena krisis ilmu.

Melihat hal ini, tidak heran jika dalam perkembanganya, ulama-ulama yang lahir dari "aktifitas" menuntut ilmu tersebut sangat mewarnai maju-mundurnya peradaban Islam. Bahkan, bisa dibilang 'sangat menentukan'. Karena itu, sekali lagi, kita sangat prihatin manakala ada yang berfikir dan berpandangan bahwa aktifitas menuntut ilmu itu tidak akan mendatangkan suatu manfaat, bahkan sebaliknya. Sungguh, ini perlu pelurusan. Dalam hal ini, semoga tulisan yang serba singkat ini memberi sedikit kontribusi. Wallahu a'lam bi as-shawab.

...........................................................
Assalamu'alaikum wr. wb....
Alhamdulillah, Allah swt memperkenankan saya menyusun satu artikel "ringan" sebagai respon atas kejanggalan yang saya dapat. Rencananya, tulisan ini akan saya lengkapi dengan tulisan-tulisan lain seputar masalah "ilmu". Semoga harapan ini seiring dengan ridha Allah swt, amien. Akhirnya, dari lubuk hati yang paling dalam, saya berharap, "tetesan" kecil ini memberikan "kontribusi" positif bagi teman-teman semua. Tak lupa, selaku manusia biasa, penulis mohom maaf atas khilaf dan salah yang sangat mungkin ada dalam tulisan ini.
Wassalamu'alaikum wr. wb....

al-faqir,
Asmu'i Marto

(dari : sahabatku Asmu'i)