bunga

Al -Khansa ra : Merelakan Kematian Empat Putranya dalam Perang Qadisiyyah



Sahabat, mengingat hari ini adalah Hari Ibu. Kuteringat akan sebuah kisah shahabiyah yang merupakan seorang wanita agung yang ditempa Islam dengan sangat luar biasa dan tentunya dengan iman. Karena imanlah yang merubah kegelapan menjadi cahaya terang benderang. Oleh sebab itu, masyarakat yang tanpa iman adalah masyarakat yang menderita walaupun dengan bergelimang kesenangan dan kesejahteraan. Tapi dengan iman maka akan dilahirkan tokoh-tokoh terkemuka. Dimana beliau berhasil mengantarkan keempat puteranya menjadi seorang mujahid sejati.

Dialah al-Khansa’, wanita Arab pertama yang jago bersyair. Yang memiliki nama sebenarnya adalah Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah. Dia seorang wanita yang cerdas dan bijaksana.

Al-Khansa’ baru bisa membuat dua tau tiga bait puisi ketika saudara kandungnya, Mu’awiyah bin Amru as -Sulami terbunuh. Lalu ketika saudara kandungnya dari pihak ayah, Shakr mati karena terbunuh, saat itulah Al-Khansa melantunkan puisi-puisi dukanya yang terkenal dan berkualitas. Karena Al-Khansa’ amat mencintai saudaranya yang satu ini, ia amat penyabar, dermawan, dan penuh perhatian terhadap keluarga.


Keislaman al-Khansa’ dan Kaumnya

Tatkala mendengar dakwah Islam, al-Khansa’ datang bersama kaumnya —Bani Sulaim— menghadap Rasulullah dan menyatakan keislaman mereka. Ahli-ahli sejarah menceritakan bahwa pernah suatu ketika Rasulullah menyuruhnya melantunkan syair, kemudian karena kagum keindahan syairnya, beliau mengatakan, “Ayo teruskan, tambah lagi syairnya, wahai Khansa’!” sambil mengisyaratkan dengan telunjuk beliau.

Wasiat al-Khansa’ Bagi Keempat Anaknya

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa al-Khansa’ dan keempat putranya ikut serta dalam perang al-Qadisiyyah.

Menjelang malam pertama mereka di al-Qadisiyyah, al-Khansa berwasiat kepada putera-puteranya,

“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah yang tiada ilah yang haqq selain Dia. kalian adalah putera dari laki-laki yang satu sebagaimana kalian juga putera dari wanita yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan khal (paman dari jalur ibu /saudara lelaki ibu) kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak pernah menyamarkan nasab kalian.

Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri akhirat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana.


Allah Azza wa Jalla berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Qs. Ali Imran: 200)

Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari Ilahi.

Apabila pertempuran mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, habisilah pemimpin mereka saat perang tengah berkecamuk, mudah-mudahan kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan.”


Kepahlawanan Keempat Anaknya


Terdorong oleh nasihat ibunya, keempat puteranya tampil dengan gagah berani. Mereka bangkit demi mewujudkan impian sang ibunda. Dan tatkala fajar menyingsing, majulah keempat puteranya menuju kamp-kamp musuh.

Sesaat kemudian, dengan pedang terhunus anak pertama memulai serangannya sambil bersyair,

Saudaraku, ingatlah pesan ibumu
tatkala ia menasehatimu di waktu malam..
Nasehatnya sungguh jelas dan tegas,
“Majulah dengan geram dan wajah muram!”

Yang kalian hadapi nanti hanyalah
anjing-anjing Sasan2 yang mengaum geram..

Mereka telah yakin akan kehancurannya,
maka pilihlah antara kehidupan yang tenteram
atau kematian yang penuh keberuntungan



Ibarat anak panah, anak pertama melesat ke tengah-tengah musuh dan berperang mati-matian hingga akhirnya gugur. Semoga Allah merahmatinya.

Berikutnya, giliran yang kedua maju menyerang sembari melantunkan,

I
bunda adalah wanita yang hebat dan tabah,
pendapatnya sungguh tepat dan bijaksana

Ia perintahkan kita dengan penuh bijaksana,
sebagai nasihat yang tulus bagi puteranya

Majulah tanpa pusingkan jumlah mereka
dan raihlah kemenangan yang nyata

Atau kematian yang sungguh mulia
di jannatul Firdaus yang kekal selamanya


Kemudian ia bertempur hingga titik darah yang penghabisan menyusul saudaranya ke alam baka. Semoga Allah merahmatinya.

Lalu yang ketiga ambil bagian. Ia maju mengikuti jejak saudaranya, seraya bersyair,

Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibu
perintah yang sarat dengan rasa kasih sayang

Sebagai kebaktian nan tulus dan kejujuran
maka majulah dengan gagah ke medan perang..

hingga pasukan Kisra terpukul mundur atau biarkan mereka tahu,
bagaimana cara berjuang

Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan
raihlah kemenangan meski maut menghadang



Kemudian ia terus bertempur hingga mati terbunuh. Semoga Allah merahmatinya.

Lalu tibalah giliran anak terakhir yang menyerang. Ia maju seraya melantunkan,

Aku tidak pantas menjadi anak Al-Khansa' dan Akram
Aku tidak pantas menjadi orang terhormat yang membanggakan

Jika tidak berda di garis depan pasukan melawan pasukan 'Ajam
Menyerbu tanpa rasa gentar danmelibas setiap rintangan



Lalu ia pun bertempur habis-habisan hingga gugur. Semoga Allah meridhainya beserta ketiga saudaranya.

Tatkala berita gugurnya keempat anaknya tadi sampai telinga al-Khansa’, ia hanya tabah sembari mengatakan,

Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya.

Sahabatku.tahukah kita apa yang merubah kepribadian Al-Khansa hingga ia begitu sabar dengan kematian mereka. Jawabnya adalah iman. Rasulullah telah menanamkan iman di hati orang-orang mukmin sehingga mengajarkan mereka dari alam jahiliyah menuju alam dengan nilai-nilai luhur, akhlak mulia dan kerinduan kepada keridhaan Allah swt.

Semoga dari kisah dari salah satu shahabiyah Rasulullah ini menambah semangat bagi kita para wanita, para ibu yang akan melahirkan generasi cerdas, bertakwa, generasi rabbani, generasi qur’ani, ya mereka semua adalah tokokh-tokoh besar yang akan menyemarakkan dunia dengan kebijaksanaan dan keadilan.

Wanita merupakan senjata yang akan menjadikan sebuah fondasi yang kuat untuk membangun sebuah masyarakat islami yang kokoh, berakhlak mulia dan memiliki pilar yang kuat sehingga menyebarkan keharuman dna meraih kebahagiaan. Kemulian Islam terbangun karena peran-peran kaum ibu.

Jika kita selama ini lupa dan lalai menghormati ibu yang merupakan kewajiban yang harus kita lakukan sepanjang hari, maka dihari ini, mari kita sama-sama mengingat kewajiban itu dengan mengucapkan dan memberi penghormatan kepada ibu kita. Mudah-mudahan akan menjadi amal yang terus berlanjut dihari berikutnya sepanjang hidup kita.

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
~Evi A.~
Medan, 22 Desember 2010

Referensi :
1.35 Sirah Shahabiyah, Penerbit Al-I’tishom karya Mahmud Al-Mishri
2.http://jilbab.or.id/archives/896-al-khansa-ibunda-4-mujahid-sejati/


catatan:
1.al-Qadisiyyah adalah Nama sebuah daerah yang terletak sekitar 45 Mil dari Kufah, Iraq. Di daerah inilah terjadi pertempuran hebat antara kaum muslimin melawan tentara Persia, di zaman kekhalifahan Umar bin Khatthab pada tahun 16 H. Kaum muslimin ketika itu di bawah komando Sa’ad Abi Waqqash, sedang pihak Persia dipimpin oleh Rustum. Perang ini berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dan runtuhnya imperium Persia. [lihat: Mu'jamul Buldan, 3/353, dan dari berbagai sumber]

2. Sasan ialah nama dinasti yang berkuasa di Persia saat itu. Kaisar terakhir mereka adalah Yazdagrid III, yang melarikan diri setelah pasukan Persia di bawah komando Rustum porak-poranda di al-Qadisiyah. Jadi, di tangan dinasti Sasan-lah Imperium Persia tumbang setelah eksis selama ribuan tahun