Senin, 12 April 2010

Jangan Belajar Islam pada Orang Kafir

Senin, 12 April 2010
Jangan Belajar Islam pada Orang Kafir


Tak Mungkin Belajar Islam pada Orang Junub
Penulis : Dr Syamsuddin Arif *

Belajar Islam ke negara-negara Timur Tengah, itu biasa. Belajar Islam ke negara-negara Barat, ini baru beda dari biasa. Padahal, negara-negara tersebut—setidaknya menurut catatan sejarah—bukan negara yang menjadi tempat berkembangnya Islam, seperti Timur Tengah. Meski demikian, peminatnya dari tahun ke tahun terbilang tidak sedikit.


Menurut data Direktorat Perguruan Tinggi Islam Departemen Agama tahun 2005, pengiriman mahasiswa untuk belajar Islam ke negeri Barat dimulai pada tahun 1950-an. Jumlah mahasiswa yang berangkat berjumlah tiga orang, yaitu: Harun Nasution, Mukti Ali, dan Rasyidi. Ketiga orang tersebut belajar di McGill’s Institute of Islamic Studies (MIIS), Kanada. Dan sekarang, perkembangannya jauh lebih besar dan lebih dasyat.

Umumnya, sebagian lulusan studi Islam di Barat terpengaruh gaya berfikir ala Barat yang liberal dan sekuler. Tapi tak semuanya begitu. Ada juga yang kritis. Professor Rasjidi, misalnya adalah seorang lulusan program Islamic Studies di Universitas McGill, Kanada. Tapi ia justru ikut “menghadang gerakan anti sekularisme dan liberalisme”. Namun menurut mantan Menteri Agama RI pertama ini, pada umumnya belajar Islam di Barat sangat terpengaruh oleh pemikiran orientalis.

Bagaimana sebenarnya belajar di Barat? Dan bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim? Bolehkan seorang Muslim belajar tentang Islam pada seseorang yang tidak meyakini Iman Islam?

Fakultas khusus Islamic studiesNah, hidayatullah.com[/url] kali ini mewawancari Dr. Syamsussin Arif. Syamsuddin adalah peneliti INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization). Cendekiawan muda Betawi ini menyelesaikan doktornya di ISTAC-Kuala Lumpur dan juga pernah menyelesaikan disertasi untuk doktor keduanya di Orientalisches Seminar, Universitas Frankfurt, Jerman. Kini, selain sebagai peneliti INSISTS, sehari-hari ia mengajar di Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM). Di bawah ini adalah petikan wawancaranya.

Lutfie Assyaukanie dari aktivis Islam Liberal (JIL) pernah berkata, “Asiknya belajar Islam di Barat.” Anda juga pernah belajar Islam di Barat. Apa Anda merasakannya?

Kalau yang dimaksud mempelajari seluk-beluk ajaran Islam secara serius lagi mendalam, dengan tujuan menjadi ulama pewaris Nabi dalam arti yang sesungguhnya, maka universitas- universitas di Barat bukanlah tempatnya.

Bagaimana mungkin seorang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak pernah bersuci, tidak pernah shalat, disebut ahli hadis, ahli tafsir, ahli fiqh? Bagaimana mungkin orang yang seumur hidupnya dalam keadaan junub disejajarkan dengan Imam as-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam al-Ghazali? Hayhaata hayhaata, saa’a maa yahkumuun (Aduhai, aduhai, sungguh suatu keputusan yang buruk).

Namun kalau tujuannya mempelajari cara sarjana Barat mengkaji Islam, maka saya kira bukan masalah. Adapun soal asiknya belajar di Barat itu memang betul. Tapi, tentu bukan hanya di Barat. Lebih tepatnya di negeri orang.

Bagi orang Barat, belajar di Timur itu mengasikkan. Banyak kejutan karena serba tak pasti. Berbeda dengan suasana di negeri asal mereka yang semuanya teratur dan serba terencana, sehingga hidup sehari-hari menjadi monoton dan menjemukan.

Sebaliknya, bagi orang Timur, hidup di Barat itu nyaman dan menyenangkan. Lingkungannya bersih, transportasi murah, lancar, aman, dan lain sebagainya. Jadi, yang asik bagi saya itu suasana hidup di Barat, bukan belajar Islam di Barat.

Menurut Anda, perlukah Muslim Indonesia belajar studi Islam di Barat?

Nah, pertanyaan ini sudah betul. Belajar studi Islam di Barat, bukan belajar Islam. Jawabannya, menurut saya, tetap perlu, meski harus diikat dengan niat dan syarat yang jelas. Niatnya meningkatkan pengetahuan, menambah pengalaman dan memperluas wawasan lillahi ta’ala, bukan li-dun-ya yushibuha.

Di Barat, Anda bisa mempelajari metodologi riset yang biasa disebut technique of scholarship. Metode ini menggabungkan penguasaan bahasa, budaya, dan sejarah dengan kecakapan filologi dan ketajaman analisis falsafi. Adapun syaratnya, yang bersangkutan harus sudah matang dulu secara intelektual maupun spiritual.

Sebenarnya, apa efeknya jika belajar studi Islam di Barat?

Efeknya banyak. Bisa positif dan bisa negatif. Positifnya, Anda dilatih untuk serius dan teliti dalam mengkaji suatu masalah. Anda juga akan paham mengapa dan untuk apa orang-orang Barat itu menekuni studi Islam.

Efek negatifnya juga ada. Anda menjadi skeptis (senantiasa meragukan). Namun, menurut saya, soal efek ini tergantung orangnya. Kalau yang bersangkutan suka jahil dengan agamanya sendiri dan buta akan tradisi intelektual Islam, apalagi kalau sudah minder, tentu mudah sekali terpukau dan terpengaruh oleh hasil kajian islamolog Barat.

Dalam beberapa kasus, orang mengaku menemukan Islam di Barat. Bagaimana ini bisa terjadi?

Saya kira itu ungkapan frustasi yang berlebihan. Sebuah jawaban untuk pertanyaan yang telah menggangu para pemikir Muslim dari mulai Abduh, Iqbal, Rahman hingga al-Attas: limaadza ta’akhkhara l-muslimun wa taqaddama ghayruhum? Mengapa umat Islam tertinggal, sementara umat-umat lain maju pesat?

Keterbelakangan umat bukan disebabkan oleh ajaran Islam, sebagaimana kemajuan Barat bukan dikarenakan agamanya. Kemajuan, kebersihan, kesehatan, ketertiban, itu soal mentalitas, soal disiplin, kejujuran dan kerja keras. Meminjam ungkapan almarhum Ustadz Rahmat Abdullah: ” Umat Islam ini bagaikan mobil tua yang remnya pakem, sedangkan Barat itu bagiakan mobil mewah yang remnya blong.”

Menurut Anda, apakah studi Islam di Barat atau Eropa itu selalu kental misi orientalisme?

Saya tidak ingin memukul-rata. Namun, pada banyak kasus memang tak dapat dipisahkan dari agenda-agenda tertentu yang jelas berpihak pada kepentingan politik, ekonomi, dan budaya mereka. Hal ini dapat dimaklumi dan terlalu naif untuk kita pungkiri.* [Agus Amin, Cholis Akbar. Diambail dari majalah Suara Hidayatullah/www.hidayatullah.com]

Dr Syamsuddin Arif *
[Peneliti INSISTS dan pengajar di : [Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM)]


dari : sahabatku Akhmad Bisri
blog comments powered by Disqus
 

About (Biodata Diri)

Profil Evi Andriani adalah
Seorang ibu rumah tangga yang senang menulis, berdiskusi, dan memberikan motivasi serta inspirasi bagi banyak orang.

Biodata :
Nama : Evi Andriani
Jenis Kelamin : Wanita
Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 05 Oktober
Alamat : Jl. Selamat. No. 70 D. Kel. Sitirejo III, Kec. Medan Amplas. Simpang Limun, Medan 20219
Website : http://www.eviandrianimosy.blogspot.com dan http://www.tokoeviandriani.com
Email : evi_andriani55@yahoo.com
Twitter : @eviandri55
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Status : Menikah

Pendidikan :


2010 - 2015: Pascasarjana Teknik Elektro USU dengan Konsentrasi Teknik Sistem Komputer
2007 - 2010: Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Universitas Indonesia (Electrical Engineering)
2003 - 2006: Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Prodi Teknik Telekomunikasi Politeknik Negeri Medan
2000 - 2003: SMU Negeri 5 Medan
1997 - 2000: SMP Negeri 15 Medan
1991 - 1997: SD Negeri 060827 Medan
1990 – 1991: TK Nur Hasanah

Aktivitas 2015 ada di beberapa organisasi/grup :
- PMI Kota Medan
- FLP Sumut (Forum Lingkar Pena Sumatera Utara)
- IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis)
- Cinta Kupu (Komunitas Lupus Sumatera Utara)
- ITJ Medan
- ODOJ (One Day One Juz)
- Yayasan Lupus : YLI (Yayasan Lupus Indonesia), SDF (Syamsi Dhuha Foundation)
- Cermat (Cendoler Medan Top) dari Yayasan Mayoko-Aiko
- KEB (Komunitas Emak-emak Blogger)
- BlogM (Komunitas Blogger Medan)
- Winner Class (Kelas Menulis Pemenang oleh Ali Muakhir)

Karya Buku :
1). 25 buku antologi
2). 11 edisi buku Pariwisata dan Kebudayaan : Indonesia The Beauty of Asia
3). 2 buku solo

Prestasi seorang Evi Andriani :

Menang Audisi di bidang kepenulisan :
1.Memenangkan event “Leutika In Your Blog”
2.Memenangkan Lomba Resensi dan Foto Bareng Buku "Panduan Sukses Orang Indonesia di Jepang"
3.Memenangkan weeklynote Leutika tentang “Iklan rokok keren sih, tapi...”
4.Memenangkan event “Adu Jurus Lawan Setan”
5.Mendapatkan hadiah “Al-qur’an Azalia Syamil” karena blog terpilih.

Penghargaan :
1.Pada 11 Januari 2011, mendapat piagam penghargaan “Mari Menulis” dari Leutika Publisher sebagai Leutikan yang banyak mengajak masyarakat untuk cinta membaca dan menulis.
2.Pada 30 April 2012 mendapat piagam penghargaan dari Agensi Naskah Indiscript sebagai penulis.
3.Pada 16 Juni 2012 mendapat piagam penghargaan sebagai pembedah buku dalam rangka acara Workshop Menulis, Launching, dan Bedah Buku Ria Ristiana Dewi; Antologi Puisi Angin Kerinduan.
4.Pada tanggal 03 Maret 2013 mendapat piagam penghargaan sebagai pembicara Seminar Motivasi Pelajar “Bongkar Rahasia Sang Pemenang UN!” di aula BPPT Jl. Wahid Hasyim Medan.
5.Pada tanggal 12 Juni 2015 mendapat piagam penghargaan Idolanesia Award sebagai ITP Survivor dari KPPI (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak)

Peliputan Profil / biografi :
1. Pernah diliput profil seorang Evi Andriani sebagai wanita inspiratif oleh DAAI TV pada tanggal 9 Februari 2013 pada acara Bingkai Kehidupan
2. Pernah diliput profil seorang Evi Andriani sebagai wanita inspiratif oleh Majalah Kartini pada Mei 2014
3. Pernah diliput profil seorang Evi Andriani sebagai wanita inspiratif oleh Majalah Kampus USU pada April 2015

Prestasi di bidang lainnya :
1.Juara 2 pidato bahasa Inggris pada Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 13 Juli 1996
2.Pada 26 Feb 2012, mendapat juara 2 dan sertifikat penghargaan sebagai “excellent performance in English Trivia Quiz” oleh LIA English Club Medan
3.Menjadi Warga Teladan Award Kampung WR (Writing Revolution) pada bulan Desember 2011-Januari 2012.
4.Sewaktu SD, pernah mendapatkan juara 1 lomba Cerdas Cermat sekolah
5.Sewaktu pramuka SMP, pernah mendapatkan juara 1 tarik tambang
6.Sewaktu SMA, pernah mendapatkan juara 1 lomba Cerdas Cermat PMR se-Sumatera Utara
7.Pernah dan selalu mendapatkan rangking 1 sampai tiga besar semasa sekolah SD, SMP dan SMA, juga masuk kelas unggulan di sekolah